POS-KUPANG.COM – MANAJEMEN PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan ( PT ASDP) Indonesia Ferry Cabang Kupang menghentikan sementara seluruh lintasan penyeberangan Kapal Fery dari Kupang ke daerah-daerah.

“Kita tutup sementara seluruh penyeberangan karena saat ini gelombang tinggi dan angin kencang terjadi di perairan NTT,” kata Manager Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kupang, Hermin Welkis di Kupang, Jumat (29/1/2021).

Ia menyebut saat ini tinggi gelombang berkisar 2,5 sampai 3 meter dan bahkan berpotensi menjadi 4-6 meter. Kecepatan angin mencapai 30 knot dan kemungkinan meningkat menjadi 40 knot perjam.

Baca juga: Desa Pariti Jadi Pilot Project Kampung Tangguh Nusantara

Menurutnya, penutupan rute pelayaran kapal Fery akan berakhir Minggu (31/1) sesuai imbauan BMKG. “Kita lihat lagi situasinya bagaimana ke depannya. Kalau memang memungkinkan berlayar, maka kita akan buka lagi. Jika tidak maka akan diperpanjang,” ujarnya.

Sejumlah kapal Fery yang tidak berlayar berlabuh di Hansisi, Pulau Semau. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya benturan kapal dengan pelabuhan akibat hantaman gelombang.

Truk Tertahan di Bolok

Sebanyak 30-an truk ekspedisi tujuan Kupang-Rote dan Kupang-Flores tertahan di Pelabuhan Fery Bolok, Kabupaten Kupang.

Baca juga: Bupati Flotim Batasi Aktivitas Warga

Sopir ekspedisi dengan tujuan Kabupaten Rote Ndao, Mean mengungkapkan bahwa ia sudah tiga hari berada di Pelabuhan Bolok.

“Kurang lebih sudah tiga hari ini. Saya dengan teman-teman yang ke Rote tertahan di pelabuhan ini karena penyeberangan ke Rote ditutup sementara waktu,” kata Mean saat ditemui di Bolok, Jumat (29/1)

Mean hendak membawa beras sekitar 60 karung ke Rote. Selain itu, telur dan kebutuhan pokok lainnya. Ia belum tahu sampai kapan tertahan di Pelabuhan Bolok akibat cuaca buruk..

Mean menambahkan hampir seluruh truk ekspedisi yang menuju Rote adalah kendaraan yang membawa kebutuhan pokok, sementara sisanya adalah kendaraan yang membawa material bangunan.

Sopir truk ekspedisi lainnya, Bento mengaku rugi karena harus mengeluarkan uang tambahan untuk makan dan minum serta biaya nginap. “Sehari uang makan minum dan rokok saja bisa Rp 200 ribu, bayangkan saja kalau lima hari kami sudah rugi Rp 1 juta,” sebut Bento. (ant)



Sumber Berita