Jakarta, Beritasatu.com – Bencana yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat siklon tropis Seroja perlu dinyatakan sebagai bencana nasional. Dampak dari badai dan hujan deras yang jauh di atas normal itu tidak saja merenggut nyawa dan membuat ribuan keluarga kehilangan rumah, melainkan juga menghancurkan berbagai jenis infrastruktur, termasuk bendungan untuk irigasi.

Melihat kerusakan yang begitu dahsyat, pusat harus mengambil alih dengan menyatakan bencana yang melanda NTT selama 4-6 April 2021 sebagai bencana nasional. Pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, dan kota tidak bisa membangun kembali infrastruktur yang rusak.

“Biaya terlalu besar, pemda tidak sanggup. Pusat harus mengambil alih,” kata Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin saat berbuka puasa bersama sejumlah wartawan di rumah dinas Jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Dengan mendeklarasikan sebagai bencana nasional, pemerintah pusat bisa mengalokasikan dana untuk segera membangun kembali infrastruktur jalan dan bendungan yang rusak. “Saya dengar ada sejumlah bendungan yang jebol. Jika tidak segera dibangun kembali, musim tanam berikut petani tidak bisa bersawah,” ujar legislator dari Partai Golkar itu.

Seperti diberitakan Antara, siklon tropis seroja yang melanda Sumba Timur, Minggu (4/4/2021) dini hari, menyebabkan Bendungan Kambaniru jebol. “Bencana alam siklon tropis Seroja berdampak luas di Sumba Timur, yaitu mengakibatkan Bendungan Kambaniru jebol. Kondisi bendungan kini tidak bisa lagi menampung air untuk kebutuhan irigasi karena kondisinya rusak berat,” kata Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing.

Ia mengatakan, Bendungan Kambaniru yang terletak di Kecamatan Kambera itu merupakan bendungan terbesar di Pulau Sumba. Kerusakan Bendungan Kambaniru mengakibatkan 1.440 ha lahan persawahan di Kecamatan Kambera tidak bisa ditanami padi pada musim taman kedua 2021.

Dua pekan seusai bencana alam melanda 20 daerah di NTT, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tidak kurang dari 181 penduduk setempat meninggal dunia. Bencana alam itu mengakibatkan 225 penduduk lainnya mengalami luka serta 48 lainnya dinyatakan hilang. Mereka adalah para korban yang terdampak bencana tanah longsor hingga banjir bandang di Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sumba Barat.

Selain itu, bencana juga melanda Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Ende, Kabupaten Sabu Raijia, Kabupaten Alor, Kabupaten Kupang, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Sika, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Nagekeo.

Berdasarkan laporan tersebut, bencana alam terparah dialami total 2.579 penduduk di Kabupaten Flores Timur, 72 orang di antaranya meninggal dunia, 76 luka-luka dan dua jiwa dilaporkan hilang. Lokasi terparah berikutnya berada di Kabupaten Lembata di mana 46 jiwa dari total 5.861 penduduk meninggal dunia, 53 luka-luka dan 22 jiwa dinyatakan hilang. Di Kabupaten Solor dilaporkan 12 orang meninggal dunia, 26 luka-luka dan tiga orang lainnya dinyatakan hilang. Korban meninggal dunia juga dilaporkan berasal di Kabupaten Malaka sebanyak 11 jiwa dari total penduduk 30.599 jiwa.

Selain korban meninggal, BNPB juga melaporkan sebanyak 74.629 rumah tinggal penduduk di wilayah terdampak bencana mengalami kerusakan berskala ringan hingga berat. Sementara kerusakan infrastruktur publik dilaporkan terjadi di 16 wilayah kota/kabupaten di NTT. Di Kota Kupang bencana merusak 39 fasilitas pendidikan, 13 fasilitas kesehatan, 67 tempat ibadah, dua ruas jalan, 11 fasilitas perdagangan dan 18 fasilitas pemerintahan.

Di Kabupaten Flores Timur bencana merusak jalan, jembatan hingga talut pengaman pantai. Kabupaten Malaka mengalami kerusakan fasilitas pendidikan, kantor pemerintahan, saluran irigasi hingga peternakan dan tambak milik penduduk.

Sejumlah kantor pelayanan publik seperti Mapolres, asrama polisi, sekolah hingga pasar dilaporkan rusak di Kabupaten Ngada. Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Ende, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Alor dan Kabupaten Kupang Belu dan Manggarai.

Koordinator Informasi Geospasial Tematik Kebencanaan Badan Informasi Geospasial, Ferrari Pinem, mengemukakan, bencana alam di NTT tidak lepas dari pengaruh wilayah yang berada pada lokasi rawan bencana alam. Misalnya, daerah Karera, Kabupaten Sumba Timur yang berlokasi pada cekungan dataran banjir yang dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan.

Menurut dia, dataran banjir ini terbentuk pada lembah di antara pegunungan berbatuan vulkanik di sebelah utara dan perbukitan berbatuan sedimen di sebelah selatannya. Material yang terendapkan pada lembah ini berasal dari proses pengikisan material lereng pegunungan di sekelilingnya.

Proses sedimentasi mengendapkan material alluvium, lempung, serta berbagai batuan endapan kipas yang berasal dari lereng kaki bukit. Pegunungan vulkanik di sebelah utara wilayah terdampak memiliki material dari Gunung Silo (GSO) dengan batuan berupa andesit, basalt, diorite, dan abbro.

Sumber: BeritaSatu.com

Sumber Berita