Darilaut – Seekor bayi hiu yang mirip manusia beredar di masyarakat Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (25/2).

Menanggapi informasi yang beredar mengenai adanya temuan bayi hiu yang menyerupai manusia di Rote Ndao, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT menindaklanjuti dengan mendatangi tempat kejadian untuk memeriksa keberadaannya.

Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara mengatakan ikan hiu sepanjang sekitar 1,50 meter dibawa ke darat dan ketika dibelah terdapat 3 janin di dalamnya.

Dari 3 janin hiu tersebut salah satunya berwujud menyerupai manusia. Kemudian, janin itu diawetkan dalam wadah kaca berisikan cairan alkohol.

Petugas lalu melakukan pengukuran terhadap awetan janin hiu dengan hasil panjang 20 cm dan berat 300 gram.

Untuk lebih memastikan, Timbul kemudian menghubungi Dosen dan Peneliti Ikan/ Ichthyologist, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P.H. Simanjuntak.

Setelah membaca dan memperhatikan hasil pengumpulan informasi oleh petugas Resor Kesatuan Wilayah (RKW) Rote, Charles menyimpulkan bahwa spesies janin hiu ini adalah Carcharinus melanopterus atau blacktip reef shark.

Spesies hiu sirip hitam ini termasuk kategori rentan dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Blacktip reef sharks atau hiu sirip hitam. FOTO: TNC/NATURE.ORG

Bayi hiu yang diawetkan masih dalam kondisi janin atau fetus, yang berasal dari dalam tubuh induknya (belum dilahirkan). Di bagian lubang atau bulatan adalah organ mata namun posisinya belum berada pada bagian lateral (sisi tubuh) melainkan ventral (depan).

Mata yang tidak bermigrasi saat pembentukan embrio, yaitu berada pada bagian ventral, mengindikasikan adanya cacat bawaan atau congenital abnormalities.

Penyebabnya ada beberapa faktor baik karena genetik maupun lingkungan. Informasi ini sekaligus mematahkan dugaan bahwa kedua lubang adalah hidung.

Timbul mengatakan walaupun hiu belum termasuk dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor 106 tahun 2018, namun keberadaannya penting di perairan laut.

Posisi hiu dalam rantai makanan adalah sebagai top predator berfungsi untuk mengendalikan jenis-jenis yang dimangsanya. Penurunan populasi hiu dikhawatirkan mengganggu kestabilan ekosistem.

Timbul mengimbau kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip hiu dan turut melestarikan sumberdaya perairan laut.

Sumber Berita