Kapal tidak diizinkan menyeberang ke pulau-pulau yang terdampak bencana tersebut sehingga menjadi kendala dalam pendistribusian bantuan.

JAKARTA – Pendistribusian bantuan untuk para pengungsi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terhalang cuaca buruk.

“Bantuan terlambat karena cuaca. Jadi, kemarin kami bawa barang turun di Maumere dan melalui jalur darat ke Larantuka, lalu menyeberang ke Adonara. Memang cuaca tidak bagus,” kata Menteri Sosial, Tri Rismaharini saat konferensi pers daring di Jakarta, Rabu.

Karena cuaca buruk, kapal tidak diizinkan menyeberang ke pulau-pulau yang terdampak bencana tersebut sehingga menjadi kendala dalam pendistribusian bantuan.

“Masalahnya transportasi sulit sehingga kita juga kesulitan membawa barang kesana,” jelas Risma.

Siklon Seroja hingga saat ini terus bergerak menjauhi wilayah Indonesia, namun masih memberikan dampak berupa angin kencang dan gelombang tinggi di sejumlah perairan yang dilalui.

Siklon yang menguat pada Senin (5/4) dini hari pukul 01.00 WIB itu menimbulkan dampak bencana di Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao, Ende, Sabu Raijua, Alor, Kupang,Belu, Timor Tengah Utara, dan kota Kupang.

Berdasarkan peninjauan Risma ke lokasi bencana sebelumnya, serta laporan dari pemda setempat, wilayah yang terdampak parah bencana akibat siklon tropis Seroja itu adalah Kabupaten Larantuka, Adonara, Sumba Timur, Alor, Ende, dan Malaka.

Korban Meninggal

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu pukul 14.00 WIB, jumlah korban jiwa sebanyak 124 orang, dengan rincian di Kabupaten Flores Timur 67 orang, Lembata 28 orang, Alor 21 orang, Malaka tiga orang, Sabu Raijua dua orang, Kota Kupang, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Kupang masing-masing satu orang.

“Sekali lagi, data sangat dinamis dan akan terus kami update (perbarui),” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam konferensi pers secara virtual dari Graha BNPB di Jakarta, Rabu.

Selain itu, menurut Raditya, masih ada 74 orang yang dilaporkan hilang akibat bencana alam di wilayah Nusa Tenggara Timur.

BNPB mengerahkan enam helikopter guna membantu penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor di NTT. Adapun enam helikopter tersebut meliputi Heli MI-8 dengan daya angkut delapan ton yang direposisi dari Kalimantan Barat dan Heli Kamov 32 A dengan daya angkut lima ton yang direposisi dari Riau.

Kemudian, Heli EC-115 berkapasitas 12 tempat duduk, Heli AW 199 berkapasitas tujuh tempat duduk, Heli jenis Bell 412EP dengan kapasitas 12 tempat duduk dan Heli AS-365 kapasitas 11 tempat duduk.

Sementara itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengaku kesulitan menembus daerah di NTT karena banyak jalan dan jembatan rusak. Akibatnya, proses pemulihan jaringan listrik yang padam akibat badai siklon tropis Seroja itu masih belum optimal.

“Salah satu kendala di lapangan, yakni banyak daerah masih belum bisa ditembus petugas karena aksesnya rusak. Kami menyebarkan 442 personel demi mempercepat pemulihan kelistrikan,” kata General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur, Agustinus Jatmiko, dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Rabu.

Hingga pukul 12.00 WITA, PLN telah memperbaiki 1.005 gardu dan kembali menyalurkan listrik kepada lebih dari 142 ribu pelanggan. Dari 3.986 gardu distribusi listrik terdampak badai di Nusa Tenggara Timur, saat ini masih tersisa 2.981 gardu yang padam. Dengan begitu, persentase gardu normal tercatat baru mencapai 25 persen. n ruf/Ant/P-4

(Ant/ruf/P-4)
Redaktur : Khairil Huda

Sumber Berita