POS-KUPANG.COM | KUPANG –– Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Gubernur NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan undangan kepada Menteri melalui Tim Kemenko Maritim dan Investasi ( Kemenko Marves) untuk ikut dalam acara panen garam dan ikan kerapu. Rencananya, pemanenan garam dan kerapu akan dilaksanakan pada Juni 2021 mendatang.

Undangan tersebut disampaikan Gubernur Viktor saat menerima kunjungan Tim Kemenko Kemenko Marves RI di ruang kerja Gubernur, Selasa (24/11/2020).

“NTT merupakan salah satu Provinsi yang terkenal dengan hasil laut terbaik di Indonesia. Dan kami sedang membudidayakan ikan kerapu untuk kelas ekspor. Seperti yang kita tahu Indonesia sulit untuk membudidayakan ikan kerapu dan NTT sedang berusaha membudidayakan ikan kerapu dan saya yakin pasti berhasil,” kata Gubernur Viktor.

Baca juga: Rapat Evaluasi Pelaksanaan Progjagar Bidang Logistik Korem 161/Wira Sakti, Simak YUK

Gubernur juga menjelaskan produksi garam industri yang dilakukan di Provinsi NTT akan membantu memenuhi kebutuhan garam nasional dan sebagai bukti kemandirian serta kedaulatan rakyat.

Apa yang dilakukan pemerintah NTT mendapat pujian darah Kemenko Maritim dan Investasi. Mereka juga memuji potensi sumber daya alam yang dimiliki NTT.

Baca juga: Anggota Banggar DPRD Kota Usul Dinas Pendidikan Siapkan Bantuan Pulsa Data dan Laptop

“Kami sangat takjub dengan keindahan pariwisata dan budaya yang ada di NTT. Salah satunya 12 jenis mamalia yang hidup di laut sawu yaitu lumba-lumba,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Dr.Ir Safri Burhanuddin,DEA.

Alumni University Brest, France, ini menambahkan potensi laut yang baik di NTT akan menghasilkan garam industri yang memiliki kualitas terbaik untuk ekspor. Juga dapat memenuhi kebutuhan garam nasional karena kandungan NaCl yang terdapat pada garam NTT adalah 97 persen dan itu adalah garam terbaik.

Sebelumnya, dalam kesempatan jumpa pers, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Ganef Wurgiyanto menjelaskan, pihaknya berupaya keras untuk mengembangkan program budidaya dan perikanan tangkap. Untuk budidaya perikanan laut, dikembangkan dua jenis ikan yakni ikan kakap putih dan kerapu. Karena keduanya bernilai ekonomis tinggi.

“Di Labuan Kelambu Ngada, kita tebarkan benih kerapu sekitar satu juta benih sejak tahun 2019. Sementara di Mulut Seribu, Rote Ndao benih ikan kerapu dan ikan kakap yang dilepaskan sekitar 10 ribu ekor sejak tahun 2019,” jelas Ganef.

Lebih lanjut Ganef menguraikan, sistem pembudidayaan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang berbentuk segi empat ternyata kurang mendatangkan hasil maksimal. Karenanya, dalam tahun 2021, akan dikembangkan KJA dengan bentuk bulat berdiameter 10 meter untuk mengurangi potensi kanibalisme antar sesama ikan dalam keramba. Dalam satu keramba, rencananya akan dilepas 25 ribu ekor benih. Setelah delapan bulan diharapkan ada 20 ribu ekor ikan yang siap panen dengan bobot 800 gram. Potensinya, 1 keramba bisa menghasilkan 16 ton.

“Tahun 2020 ini, kita melakukan piloct project untuk sistem pembudidayaan seperti ini di belakang pulau Kambing, Semau. Karena lokasi tersebut dekat dengan Kupang sehingga bisa memudahkan distribusi pakannya. Kita sudah dapatkan pihak ketiga atau pelaku ekonomi yang profesional untuk mendampingi hal teknis sampai pemasarannya,” beber Ganef.

Dalam piloct project ini,lanjut Ganef, kita melibatkan masyarakat sekitar. Satu kerambah akan dikelola oleh 10 orang. Selama delapan bulan, mereka akan mendapatkan gaji upah Rp, 2,5 juta per orang setiap bulannya. Dinas Perikanan dan Kelautan juga menggandeng mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang untuk melakukan pendampingan.

“Kita sudah mengajukan pinjaman kepada pihak PT SMI (Sarana Multi Finansial) untuk pengembangan budidaya ikan laut ini sebesar 152 miliar rupiah. Dana ini akan dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya secara besar di Mulut Seribu, Hadakewa Lembata, Labuan Kelambu dan di Semau. Kalau piloct project ini berhasil tentu akan mempercepat proses pencairan pinjaman tersebut. Dalam hitungan kami, potensi untuk pengembalian cicilan kepada SMI dari tiap keramba sekitar 112 juta rupiah mulai tahun 2022,” jelas Ganef. (Laporan wartawan POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)



Sumber Berita