Kronologi, Jakarta – Penetrasi internet yang begitu meluas beberapa tahun belakangan menimbulkan juga dampak negatif kejahatan di dunia digital termasuk maraknya penipuan dan penyebaran berita hoaks.

Menurut Maraden A Polola, seorang pegiat media sosial, masyarakat wajib meningkatkan literasi digital masing-masing agar lebih bijak guna mengantispasi hal-hal negatif. Dikatakan juga oleh Maraden, hoaks adalah berita bohong yang dibuat untuk kepentingan perorangan atau kelompok yang berdampak meresahkan bagi orang yang membacanya.

“Hati-hati dengan agen-agen hoaks yang menyebarkan berita yang direkayasa isinya agar nampak seolah benar yang tujuannya adalah untuk menipu masyarakat,” ujar Maraden saat berbicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (8/7/2021).

Lebih lanjut dikatakannya, ada banyak jenis hoaks yang beredar di masyarakat di antaranya adalah misinformasi yaitu informasi yg tidak benar tapi yg menyebarkan tidak tahu kebenaran berita tersebut. Selain itu ada juga yang disebut disinformasi dan malinformasi.

“Ada sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks di Indonesia,” ungkap Maraden.

Ia mengungkapkan, ada banyak tujuan berita hoaks yaitu bisa untuk kepentingan ekonomi yang bertujuan untuk viral yang mendatangkan keuntungan dari traffic yang dihasilkan. Selain itu latar belakang lain disebarnya hoaks adalah untuk kepentingan menjatuhkan golongan/kelompok/ras/agama tertentu.

Masyarakat sebenarnya juga dapat mengetahui apakah sebuah unggahan atau berita itu hoaks atau bukan. Biasanya berita hoaks memiliki judul yang bombastis, tidak memilik keterkaitan antara judul dan isi, serta mengambil tema yang sedang mendapatkan perhatian publik.

Meski sudah ada ciri-cirinya, tetapi tak jarang banyak juga yang percaya berita hoaks. Hal ini karena kelengahan si penerima hoaks. Sebagian besar penerima hoaks yang mempercayai isi hoaks karena tidak membaca isi berita yang mereka terima dengan seksama. Juga seringnya legitimasi sumber berita.

“Untuk itulah untuk menghindarinya usahakan jangan cepat mengambil kesimpulan dan selalu membaca isi berita. Juga selalu cermati alamat situs dan periksa ulang bagaimana fakta sebenarnya. Untuk foto cek keasliannya atau bisa juga diskusikan berita tersebut dengan orang lain,” katanya.

Sementara itu pembicara lain, Rendy Doroii, memberi gambaran cara mengeksplore fitur-fitur di Instagram untuk memaksimalkan konten yang diunggah agar bisa kreatif di Instagram.

Yang pertama para pengguna Instagram perlu memahami apa itu Impression, Reach dan Enggagement. Ketiganya adalah penilaian yang biasa kita kejar di Instaram.

Impression yaitu beberapa kali dilihat orang, Reach adalah berapa orang yang melihat dan Engagement adalah berapa kali unggahan seseorang diperbincangkan orang seperti diberi like atau dikomentari

“Awalnya tujuan Instagram diciptakan untuk memanjakan visual. Ada empat warna di Instagram yang bisa kita andalkan untuk menambah engagement yaitu ocean depths, harvest gold, ethereal blue dan rose dawn. Nah salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam hal warna, adalah warna-warna inilah yang bisa jadi rekomendasi pengguna Instagram untuk lebih banyak diunggah agar bisa mendapatkan Immpression, Reash ataupun Enggament,” jelasnya.

Selain Maraden dan Rendy, juga hadir pembicara lainnya seperti Fadli Arihsan Senior Security Engineer Maxplus, Tensy Juliana Non Penggiat Komunikasi Sosial dan Nata Gain sebagai Key Opinion Leader dan dipandu oleh moderator Kika Ferdind.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Editor: Zulhamdi

Sumber Berita