• Badai Siklon Tropis Seroja yang melanda wilayah Provinsi NTT awal April 2021 mengakibatkan terjadinya banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang. Badai ini juga mengaibatkan kerusakan pada ekosistem terumbu karang di perairan ini
  • KKP melalui BKKPN Kupang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan survei awal di 19 titik lokasi TNP Laut Sawu. Hasil survei menunjukkan indikasi kuat adanya kerusakan cukup besar pada terumbu karang meskipun tidak merata di semua tempat
  • Dosen Undana Kupang meminta perlu dikaji dampak ikutan dari kerusakan terumbu karang terhadap livelihood atau mata pencaharian melalui analisis risiko lingkungan dan valuasi ekonomi. Bagaimana dampak jang pendek dan jangka panjang serta transmisi atau mekanisme kerusakan terumbu karang tersebut berimplikasi pada penghidupan masyarakat
  • Kebutuhan akan program mitigasi risiko dan kebijakan perencanaan yang mengurangi risiko terumbu karang harus tercermin dalam APBD daerah kabupaten dan kota di wilayah Provinsi NTT

 

Badai Siklon Tropis Seroja melanda 21 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut catatan Badan Meteorologi Klimatologi (BMKG), kecepatan badai ini mencapai 75 km/jam.

Badai ini memicu terjadinya banjir bandang, tanah longsor, serta angin kencang yang menyebabkan rusaknya berbagai sarana dan parasarana. Selain kerugian material, badai ini juga berdampak pada kondisi terumbu karang di wilayah NTT.

“Hal ini dapat merusak fungsi ekologis dan mengancam fungsi ekonomi yang akan merugikan masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan petani rumput laut,” sebut Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (Balai KKPN) Kupang, Imam Fauzi kepada Mongabay Indonesia, Kamis (27/5/2021).

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui BKKPN Kupang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada tanggal 22 hingga 29 April 2021 melakukan survei awal di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu.

Kegiatan ini dilakukan untuk memantau kondisi terumbu karang pasca bencana termasuk mengidentifikasi kerusakan dan perubahan sebaran terumbu karang dari data awal yang dimiliki.

“Survei kondisi terumbu karang pasca bencana ini penting untuk dilakukan karena wilayah dampaknya mencakup kawasan konservasi laut yang mempunyai keanekaragaman hayati tinggi,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, KKP, Tebe Haeru Rahayu.

Tebe sebutkan, hasilnya akan memberikan gambaran langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan agar kondisi TNP Laut Sawu dapat pulih kembali dengan cepat.

baca : Pulau dan Danau Baru Terbentuk di NTT Usai Siklon Tropis Seroja Melanda. Seperti Apa?

 

Karang masif yang terbalik akibat badai siklon Seroja di perairan Sotimori Kabupaten Rote Ndao. Foto : Lumban Nauli Lumban Toruan

 

Kerusakan Cukup Besar

Sementara itu, Kepala BKKPN Kupang Imam  Fauzi menjelaskan bahwa survei cepat dilakukan di 19 titik lokasi di sekitar perairan Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Rote Ndao.

“Survei dilakukan dengan metode pemetaan menggunaan drone untuk memantau secara cepat kerusakan terumbu karang dengan cakupan yang luas secara spasial,” ungkapnya.

Selain itu, juga digunakan metode transek sabuk pada tubir terumbu dan rataan karang melalui pengamatan langsung dengan snorkeling untuk mendapat informasi kerusakan karang.

Menurutnya, hasil survei menunjukkan indikasi kuat bahwa Siklon Tropis Seroja menyebabkan kerusakan cukup besar pada terumbu karang meskipun tidak merata di semua tempat.

“Dari 7 lokasi terumbu karang di Teluk Kupang dan perairan sekitarnya menunjukkan, perairan sekitar Kuanheum dan Lifuleo tidak terdampak oleh Siklon Tropis Seroja,” ujarnya.

Imam menambahkan, sekitar perairan Alak dan Nitneo terdampak sedang dan di wilayah Kelapa Lima, Pasir Panjang, serta Namosain kondisi terumbu karangnya sangat terdampak.

baca juga : Siklon Tropis Seroja Rusak Tanaman Pertanian di NTT 

 

Karang yang terangkat dari perairan akibat badai siklon Seroja di sekitar Pulau Dengka, Kabupatan Rote Ndao, NTT. Foto : Dhika Rino Pratama/YKAN

 

Sementara hasil dari survei di 12 lokasi pada Kabupaten Rote Ndao, di perairan wilayah Sedeoen, Mbueain, Pulau Nuse, Faifua, Papela, dan Tesabela tidak terdampak.

“Perairan Maubesi, Sotimori, dan Siomeda terdampak sedang. Dampak badai Siklon Tropis Seroja sangat besar pada perairan Tolama, Dengka, serta Tua Natuk,” paparnya.

Pakar Kelautan dari Universitas Muhammadiyah Kupang Rusydi mengatakan, kerusakan berat ditandai oleh banyaknya karang masif, bercabang, dan karang foliose yang berserakan dan menumpuk membentuk gundukan memanjang sejajar garis pantai dengan luas tertentu.

Sebagai contoh kata dia, pada wilayah perairan Tolama sampai dengan Tuanatuk panjang gundukan sekitar 8 kilometer dan tinggi gundukan berkisar 1-3 meter dari dasar laut.

Ia menambahkan, pada area yang sangat terdampak nyaris tidak ada karang hidup pada radius sekitar 10 meter dari gundukan koral.

Sedangkan Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman menambahkan, tindak lanjut dari survei ini akan dilakukan analisis data untuk mendukung kajian lebih rinci dampak badai Siklon Tropis Seroja terhadap ekosistem terumbu karang.

Ilman katakan, sebagai negara kepulauan dengan ancaman bencana yang tinggi, kajian ini sangat dibutuhkan dalam merancang langkah-langkah penanganan ekosistem terumbu karang pasca bencana secara nasional.

baca juga : Waspada, Siklon Tropis Masih Mengancam Wilayah-wilayah di Indonesia

 

Karang masif yang terbalik akibat badai siklon Seroja di Tanjung Alak, Kota Kupang, NTT. Foto : Lumban Nauli Lumban Toruan

 

Dikaji Dampak Ikutan

Lektor Kepala pada bidang Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Dr. Chaterina Agusta Paulus, M.Si kepada Mongabay Indonesia, Jumat (28/5/2021) mengatakan, sumber daya alam seperti ekosistem terumbu karang merupakan barang ekonomi khusus (special economic goods).

Chaterina katakan, barang ekonomi khusus ini tidak dihasilkan oleh manusia, sehingga sering disebut trully gift of nature (anugerah alam).

Ia sebutkan, fenomena Siklon Tropis Seroja, bisa jadi alam butuh diberi perhatian yang lebih. Tentunya, dampak siklon tropis ini tidak hanya di laut tapi juga di darat.

“Intinya, kerusakan terumbu karang akibat Siklon Tropis Seroja tersebut perlu dikaji dampak ikutan dari kerusakan terumbu karang terhadap livelihood atau mata pencaharian melalui analisis risiko lingkungan dan valuasi ekonomi,” tuturnya.

Dosen pada Program Studi Ilmu Lingkungan, Pasca Sarjana Universitas. Nusa Cendana (Undana) Kupang ini mengatakan, jika hanya melihat kerusakan semata memang terjadi dimana-mana.

Namun yang lebih penting kata Chaterina, bagaimana short term impact dan long term impact serta transmisi atau mekanisme kerusakan terumbu karang tersebut berimplikasi pada lively hood.

“Misalnya melalui penurunan hasil tangkapan atau meningkatnya risiko usaha,” sebutnya.

baca juga : Perairan Teluk Hadakewa: Dulu Marak Potas dan Bom Ikan, Sekarang Dilindungi lewat Adat

 

Gundukan daratan baru yang terbentuk di sekitar Pulau Dengka, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Ini merupakan dampak dari badai siklon Seroja. Foto : Dhika Rino Pratama/YKAN

 

Chaterina katakan, dari sini kemudian bisa diambil kebijakan yang tepat, apakah harus menangani dampak jangka panjang dari terumbu karang atau meminimumkan risiko terlebih dahulu.

Menurutnya, kerusakan terumbu karang yang ditimbulkan dari bencana alam seperti Siklon Tropis Seroja di NTT maupun akibat eksploitasi yang tidak berkelanjutan serta aktivitas antropogenik perlu perhatian khusus.

Artinya, tanpa melihat penyebab kerusakan terumbu karang sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan.

Ia sebutkan, ekosistem terumbu karang merupakan sistem kehidupan yang majemuk dan khas daerah tropis yang memiliki produktifitas dan keanekaragaman yang tinggi.

“Ekosistem terumbu karang sering disebut sebagai gudang makanan yang produktif untuk perikanan,” ujarnya.

 

Perlu Mitigasi Resiko

Dari hasil survey yang dilakukan Chaterina, beberapa nelayan di Kota Kupang berpendapat, pasca Siklon Tropis Seroja menyebabkan nelayan sulit mendapatkan ikan pelagis yang berdampak pada menurunnya tingkat pendapatan nelayan.

Ia bertanya, melihat pentingnya terumbu karang bagi penyokong kehidupan di pesisir dan laut serta bagi kehidupan masyarakat, apa yang harus kita lakukan?

“Kebijakan apa yang tepat untuk diimplementasikan? Apakah harus menangani dampak jangka panjang dari terumbu karang atau meminimumkan risiko terlebih dahulu?,” ucapnya.

Menurut Chaterina, jika hanya melihat kerusakan semata memang terjadi dimana-mana, namun yang lebih penting adalah bagaimana short term impact dan long term impact.

Selain itu, transmisi atau mekanisme kerusakan terumbu karang tersebut berimplikasi pada livelihood, misalnya melalui penurunan hasil tangkapan atau meningkatnya risiko usaha.

baca juga : Sering Diambil Masyarakat, KKP Lakukan Transplantasi Karang di Sabu Raijua

 

Wilayah perairan di Kabupaten Rote Ndao, NTT. Foto : BKPPN Kupang

 

Ia katakan, kajian analisis risiko lingkungan dan valuasi ekonomi dapat membantu proses pengambilan keputusan terkait dalam kebijakan yang akan diambil. Pemanfaatan sumber daya alam dan jasa lingkungan yang baik akan memberikan manfaat (diistilahkan dengan rente ekonomi) yang dapat ditransformasikan kedalam bentuk kemakmuran lainnya.

“Jika tidak dicermati dengan seksama akan menimbulkan dampak yang berat terhadap sumber daya alam dan lingkungan dan dapat menimbulkan biaya yang cukup signifikan pada pembangunan itu sendiri,” ungkapnya.

Chatrina meminta agar pemerintah di NTT perlu memperhatikan prinsip kehati-hatian ini agar tercermin dalam politik anggaran kabupaten/kota.

Ia sarankan,  kedepannya, kebutuhan akan program mitigasi risiko dan kebijakan perencanaan yang mengurangi risiko terumbu karang harus tercermin dalam APBD daerah kabupaten/kota.

 

, , , , , , , , , ,



Sumber Berita