Rote Ndao: Jaringan internet memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Tak terkecuali bagi masyarakat di Indonesia bagian tengah dan timur.
 
Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (BAKTI Kominfo) terus membangun jaringan internet di wilayah tersebut agar dapat membantu mempermudah komunikasi dan meningkatkan kreativitas warga.
 
Seperti yang dialami Erwan, Manager salah satu Hotel di kawasan Pantai Nembrala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).




Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Sebelum jaringan internet lancar seperti saat ini, Erwan kerap mengalami hambatan ketika ingin menjemput tamu. Keterbatasan akses komunikasi membuat mereka mengandalkan insting saja.
 
“Dulu pakai sistem feeling saja. Apakah mereka sudah tiba atau belum. Jadi sangat sulit memprediksi,” kata Erwan, dalam program Eagle Institute Indonesia Metro TV.
 
Dalam hal promosi, Erwan juga kini terbantukan dengan adanya internet. Namun setelah wabah virus korona (covid-19) melanda, jumlah pengunjung turun drastis.
 
“Rata-rata satu bulan bisa 20 hingga 30-an tamu. Setelah covid-19, hampir tidak ada,” ujar Erwan.
 
Nasib sama juga dialami Pengusaha Selancar Danny Balelang. Dannya menggeluti usaha reparasi papan selancar. Biasanya banyak orang berselanjar sekaligus memperbaiki papan selancar di tempatnya.
 
Namun jumlah wisatawan menurun. Pendapatannya juga berdampak menurun drastis akibat pandemi covid-19.
 
“Tidak ada tamu, tidak ada kerjaan. Biasanya bisa Rp20 hingga Rp30 jutaan, sekarang tidak ada,” ujarnya.
 
Dari Rote Ndao, sekarang kita beralih ke Merauke untuk mengintip pelayanan kesehatan di sana. Sekaligus mengetahui seberapa besar pemanfaatan internet di sana pada bidang kesehatan.
 
Programmer/Staf RSUD Merauke Johannes Ronald Gallop mengatakan, akses internet sebenarnya masih minim. Padahal, digitalisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
 
Namun, keadaan sekarang sudah lumayan baik jika dibandingkan keadaan dulu sebelum ada internet. Di mana, proses rujukan dari puskesmas ke rumah sakit masih dilakukan manual.
 
“Cuman bawa surat rujukan. Ketika tiba di rumah sakit, kuota tempat tidur penuh. Akhirnya pasien numpuk di IGD,” kata Johannes.
 
Sementara itu, Puskesmas Perbatasan Sota sudah mendapatkan jaringan internet. Namun masih 3G, belum 4G. Namun, hal itu sudah dirasa cukup untuk melakukan rujukan secara online.
 
“Itu dibutuhkan sekali. Terutama rujukan online, khususnya poli. Untuk entri data dan pelayanan BPJS, kami sudah sistem online juga,” kata Dokter Puskesmas Perbatasan Sota Inra Sari Mariyani.
 
(ROS)



Sumber Berita