Kupang, Beritasatu.com – Badai siklon tropis Seroja menghantam Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal April lalu. Merusak hampir 90% sistem kelistrikan di wilayah Rote, Ndao, Sabu, Pulau Semau, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Adonara, Larantuka, Lembata, dan Sumba Timor.

Akibat curah hujan selama tiga hari yang mengikuti badai Seroja, dua menara saluran udara tegangan tinggi (SUTT) bertegangan 70 kilo volt (kv) patah dan roboh.

Kerusakan tower transmisi berdampak pada padamnya sistem kelistrikan di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu.

Untuk mengatasinya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah berhasil membangun menara darurat (tower emergency) setinggi 61 meter. Dari estimasi waktu perbaikan selama 1 bulan, ternyata proses perbaikan dapat dilakukan dalam waktu 10 hari saja.

Saat mendirikan tower darurat inilah ada satu kisah tentang dua Srikandi PLN yang ikut terlibat. Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani yang terjun langsung menjadi tim relawan PLN.

Keduanya merupakan putri daerah asal NTT yang bertugas di Unit Layanan Transmisi, dan Gardu Induk Mamuju, Sulawesi Barat. Mereka terbang dari Mamuju menuju kampung halaman.

“Menjelang badai hari itu, saya sudah mulai cemas melihat stories di media sosial teman-teman. Saya melihat hujan begitu besar dan cuaca sangat buruk,” ungkap Rosalia Widya Astuti Chandra, akrab disapa Widi (23 tahun), mulai berkisah.

Jabatan
Widi merupakan lulusan Politeknik Negeri Kupang dan bergabung menjadi bagian PLN dengan jabatan junior engineer pemeliharaan transmisi sejak tahun lalu.

Ketika badai dahsyat melanda, terbersit rasa cemas dalam diri Widi. “Saya khawatir dengan kondisi keluarga saya yang berada di Kupang,” kata Widi, dalam keterangan tertulisnya.

Widi mengaku takut. Belum pernah dia melihat peristiwa bencana alam seperti ini seumur hidupnya. “Saya benar-benar sedih melihat banyak daerah hancur, hingga banyak korban meninggal dan hilang,” ujarnya.

“Begitu manajer saya memberitahu info pembukaan relawan untuk pemulihan kelistrikan NTT, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Ternyata disetujui. Saya langsung berangkat ke Kupang untuk bergabung dengan relawan lain di lokasi,” katanya.

Panggilan untuk menjadi relawan juga dirasakan Putri Ramahadani. Wanita berusia 23 tahun ini bekerja di bagian operasi dan pemeliharaan transmisi.

Sebagai tim relawan PLN, Widi dan Putri bertugas mengurus masalah persediaan logistik. Keduanya memastikan semua kebutuhan personel yang berkerja di lokasi bisa terpenuhi dengan baik.

“Meski saya dan Widi perempuan, kami tak hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan. Kami juga ikut membantu mengangkat material dan menarik konduktor listrik untuk mendirikan tower,” ungkap Putri.

Termotivasi
Keduanya mengaku sangat termotivasi agar listrik cepat menyala. Sebab, hadirnya listrik akan banyak membantu warga.

“Ada hal yang selalu menghangatkan hati kami. Saat cahaya listrik kembali hadir di antara rumah warga korban dan ketika melihat wajah-wajah tersenyum,” ungkap Widi semringah.

Wajah bahagia dan senyum para korban merupakan hadiah dari jerih payah yang para relawan lakukan. Keduanya mengaku itu merupakan penghargaan tertinggi dari pekerjaan yang telah mereka lakukan.

“Sejak dahulu saya selalu bermimpi bekerja di PLN. Saya senang sekali ketika harapan saya terwujud dan bisa berkontribusi untuk kampung halaman saya,” kata Putri bangga.

Sumber: BeritaSatu.com

Sumber Berita