Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID – Badai siklon tropis Seroja menghantam Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal April lalu.

Merusak hampir 90 persen sistem kelistrikan di wilayah Rote, Ndao, Sabu, Pulau Semau, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Adonara, Larantuka, Lembata dan Sumba Timor.

Akibat curah hujan selama tiga hari yang mengikuti badai Seroja, dua menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) bertegangan 70 kilo Volt (kV) patah dan roboh.

Kerusakan tower transmisi berdampak pada padamnya sistem kelistrikan di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu.

Untuk mengatasinya, PLN telah berhasil membangun menara darurat (tower emergency) setinggi 61 meter.

Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani yang terjun langsung menjadi tim relawan PLN.
Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani yang terjun langsung menjadi tim relawan
PLN. (PT PLN (Persero) UIP Kalbagteng)

Dari estimasi waktu perbaikan selama 1 bulan, ternyata proses perbaikan dapat dilakukan dalam waktu 10 hari saja.

Saat mendirikan tower darurat inilah ada satu kisah tentang dua Srikandi PLN yang ikut terlibat.

Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani yang terjun langsung menjadi tim relawan PLN.

Keduanya merupakan putri daerah asal NTT yang bertugas di Unit Layanan Transmisi, dan Gardu Induk Mamuju, Sulawesi Barat. Mereka terbang dari Mamuju menuju kampung halaman.



Sumber Berita