POS-KUPANG.COM | KUPANG – Saat para lansia lain sedang bahagia bersama keluarga, hal berbeda sedang dialami Viktoria Lelama, seorang nenek di RT 04/RW 02, Desa Bolatena, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Wanita berusia 68 tahun itu harus hidup sebatang kara, mengabiskan usia tuanya memeluk dingin seorang diri di sebuah gubuk reyot miliknya usai ditinggal pergi sang suami untuk selamanya. Ia pun berjuang sendiran memenuhi kebutuhan hidupnya.

Meski tak layak tempat dengan ukuran 4 X 5 meter ini, ia gunakan sebagai peraduan membaringkan tubuhnya yang terus digerus usia.

Dinding dari pelepah lontar bercampur papan kayu, perlahan lapuk dan bolong dimakan rayap seolah memberi tanda gubuk itu akan ‘pergi’ bersamanya suatu hari nanti.

Baca juga: Kejari TTU Sita Harta Benda Milik Tersangka Kasus Korupsi Dana Desa Birunatun

Baca juga: Update Klasemen MotoGP 2021 Terbaru Minggu 16 Mei 2021 Live Streaming dan Trans7 Malam Ini

Untuk atap, gubuk tua milik perempuan parubaya ini tak luput dari teriknya cahaya matahari yang menembus hingga ke dalam rumah, juga lantai rumah harus digenangi banjir saat musim hujan tiba.

Tentu, wanita yang akrab disapa Nenek Toi ini, tak sanggup memperbaiki gubuk itu karena memang tak punya apa-apa.

Dibalik dinding rapuh dan beratap bolong, tidak ada barang berharga di dalam gubuk derita itu. Hanya sebuah bale – bale (ranjang, red) tempat nenek Toi merebahkan tubuhnya dan hanya ditemani lampu tioek (pelita, red) sebagai alat penerangan meski kadang harus menatap kosong malam akibat kehabisan minyak menunggu pagi menjemput.

Kesehariannya dengan ikhtiar tak ingin meminta. Nenek Toi memenuhi kebutuhannya dengan mengais sisa – sisa padi dari hasil panen warga setempat yang tertinggal. Dia percaya, ada terselip rezekinya dibalik tumpukan batang padi.

Baca juga: Peduli Nelayan, Ansy Lema-KKP Selenggarakan Bulan Mutu Karantina Ikan 2021

Baca juga: Terungkap Sumber Rudal Hamas yang Sudah 1.800 Ditembak ke Israel,Pemasoknya Juga Musuh Yahudi dan AS

Awal April 2021 ketika badai siklon Seroja menghantam NTT, nenek Viktoria harus menahan pedihnya malam itu.

“Baru-baru bencana saya hanya bisa peluk tiang dan pasrah sambil menangis dan berdoa kalau bisa TUHAN jangan kasih roboh ini rumah, nanti saya tinggal di dimana?,” tutur nenek Toi, Minggu 16 Mei 2021 kepada wartawan.

Ia pun akhirnya berlindung di gereja terdekat menunggu kondisi tenang aga ia dapat kembali ke rumahnya.

Dia mengaku, hingga saat ini belum mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah setempat.

“Saya mau harap apa, sedangkan bantuan seperti raskin, sembako banyak-banyak saja saya tidak dapat, apa lagi bantuan rumah,” ungkapnya. (Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi)



Sumber Berita