Liputan6.com, Rote Ndao – Seorang perempuan lanjut usia di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot, di RT 04/RW 02, Desa Bolatena, Kecamatan Landu Leko.

Viktoria Lelama atau yang sering disapa nenek Toi, berusia 68 tahun, harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, setelah suaminya meninggal dunia.

Tinggal di gubuk reyot berukuran 4×5 meter dengan kondisi rumah yang sudah sangat memperihatinkan, nenek Toi mencoba bertahan hidup. Saat Liputan6.com berkunjung ke lokasi, rumah tersebut sudah tidak layak huni. Dinding rumah terbuat dari pelepah lontar bercampur papan kayu, sudah lapuk dan bolong dimakan rayap. Di dalam rumah hanya ada satu bale tempat biasa nenek Toi merebahkan diri dan beristirahat.

Sedangkan atap rumah, terbuat dari daun gewang, sudah berlubang termakan usia. Ketika musim panas, cahaya matahari pun bisa tembus sampai ke dalam rumah yang lebih mirip gubuk. Saat musim hujan, lantai rumah nenek Toi layaknya sebuah kubangan berlumpur. 

Nenek Toi mengaku tak mampu lagi memperbaiki rumahnya karena memang tak punya apa-apa. 

Jika malam tiba, wanita tua itu mengandalkan lampu pelita sebagai alat penerangan. Namun, kadang dirinya harus gelap-gelapan karena tidak memiliki uang untuk sekadang membeli minyak tanah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, nenek Toi harus memungut sisa-sisa padi dari hasil panen warga. Saat bencana badai Seroja menerjang NTT beberapa waktu lalu, nenek Viktoria Lelama juga terkena dampak. Hujan mengguyur deras disertai angin kencang membuat nenek Toi basah kuyup meski sudah ada di dalam rumah.

“Baru-baru bencana saya hanya bisa peluk tiang dan pasrah sambil menangis dan berdoa kalau bisa Tuhan jangan kasih roboh ini rumah, nanti saya tinggal di mana,” katanya lirih.

Tak kuasa menahan dingin dan gempuran badai, nenek Toi kemudian mencari tempat berlindung.

“Terkahir saya lari ke gereja dan berlindung disana paginya baru saya pulang,” ujarnya.

 

Sumber Berita