Luas Lahan Potensi Garam di NTT Capai 24 Ribu Hektar 

POS-KUPANG.COM | KUPANG — Provinsi NTT sedang mengembangkan produksi garam secara luas. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi NTT, luas lahan potensi garam di wilayah provinsi yang memiliki karakter kepulauan dengan musim panas panjang ini mencapai 24.453 hektar yang tersebar di 8 kabupaten. 

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian NTT Mohammad Nasir Abdullah melalui Kepala Bidang Pembangunan Sumber Daya Industri Bernard Haning mengatakan dari total luas potensi lahan tersebut, hingga akhir 2020 baru dikelola seluas 4.088 hektar di tujuh daerah. 

Luas lahan potensi garam terbesar berada di Kabupaten Sumba Timur dengan 7.904 hektar, disusul Kabupaten Kupang dengan 5.655 hektar.

Berikut berturut turut Kabupaten Rote Ndao dengan 4.499 hektar, Kabupaten TTS dengan 2.276 hektar, Kabupaten Malaka dengan 1.927 hektar, Kabupaten Nagekeo dengan 1.849 hektar dan Flores Timur dengan 343 hektar serta 80 hektar di Kabupaten Sabu Raijua.

Di Kabupaten Malaka, baru dikelola 28 hektar dari 600 hektar yang disiapkan oleh PT. Inti Daya Kencana. Sementara di Kabupaten Kupang, PT. Timor Live Lestari mengelola 600 hektar di Nunkurus, PT. Cakrawala Timor Sentosa mengelola 300 hektar di Nunkurus, PT. Garam Indonesia mengelola 314 hektar di Desa Bipolo serta PT. GIN seluas 113 hektar di Desa Bipolo.

Demikian juga di Kabupaten Rote Ndao, PT. Ciang She mengelola 45 hektar, di Kabupaten TTS, PT. Amaris akan mengelola 2.000 hektar, di Kabupaten Nagekeo, PT. CHITAM Salt mengelola 36 hektar dan di Sabu Raijua, Pemda Sarai mengelola 80 hektar. 

Dari total lahan itu, tercatat hasil produksi pada 2020 mencapai 53.480 ton. Terdiri dari produksi 1.000 ton di lahan 10 hektar oleh PT. Timor Live Lestari, produksi 10.000 ton oleh PT. Cakrawala Timor Sentosa, produksi 15.000 ton oleh PT. Garam Indonesia, produksi 480 ton oleh PT. GIN, produksi 4.000 ton oleh PT. Chitam Salt, produksi 9.000 ton oleh PT. Ciang She dan 18.000 ton oleh Pemda Sarai.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat sendiri memberi target produksi garam di Provinsi NTT sebanyak 500 ribu ton per tahun untuk memberi kontribusi terhadap kebutuhan garam nasional. Hal itu ditegaskan Gubernur Viktor Laiskodat usai melakukan panen perdana garam di Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kamis, 15 Oktober 2020 lalu. 

“Target kita menuju 500 ribu ton per tahun, karena saat ini impor 3,3 juta ton,” katanya saat itu.

Meski demikian, Gubernur Viktor Laiskodat yakin jika NTT bisa mencapai produksi dan menyuplai 1 juta ton per tahun untuk kebutuhan garam nasional.

“Kita harapkan kita bisa suplai 1 juta ton per tahun untuk nasional. Itu sumbangan yang sangat luar biasa,” ujar Gubernur Viktor Laiskodat.

Sebelumnya, saat meninjau operasional tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 21 Agustus 2019 silam, Presiden Joko Widodo memuji kualitas garam dari NTT. Menurutnya, garam hasil produksi di wilayah NTT seperti Nunkurus memang lebih bagus dari garam Madura, Surabaya maupun Australia. 

Baca juga: Petani Garam Target Hasilkan 60 Ribu Ton di Tahun 2021

Baca juga: Produksi Garam PT IDK Belum Diangkut Keluar Malaka

Baca juga: Pekerja Penghasil Garam di Desa Nunkurus di Upah 5% Oleh Perusahaan

“Tadi saya ditunjukkan beberapa perbandingan garam yang diambil dari luar dibawa ke sini. Yang dari Madura, yang dari Surabaya, dan dari Australia. Memang hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, bisa masuk ke garam industri, dan kalau diolah lagi bisa juga menjadi garam konsumsi,” ujar Jokowi kepada wartawan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)



Sumber Berita