Jakarta – Pulau kecil muncul di perairan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah badai dampak kelahiran siklon tropis Seroja. Ahli geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menduga pulau baru tersebut berupa gundukan pasir yang terbawa arus laut.

“Jadi saya sendiri menilai tak ada hubungan dengan gempa tektonik. Paling mungkin, siklon itu membawa pasir ke pantai sehingga terjadi gundukan itu, sehingga terjadi sedimentasi,” jelas ahli geologi LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaja saat dihubungi, Rabu (14/4/2021).

Dia mengatakan peristiwa sedimentasi pasir laut tersebut biasa terjadi. Dia mengatakan fenomena munculnya pulau baru dengan tinggi mencapai 3 meter itu disebut gosong pasir.

“Itu namanya gosong pasir. Umum terjadi di mana-mana. Gosong pasir itu kalau di dekat pantai itu kan pulau-pulau pasir. Gosong pasir banyak di mana-mana, jadi tanpa siklon pun bisa terbentuk karena arus laut saja lalu terjadi sedimentasi saja. Tapi mungkin karena siklon kan spesial, dia energinya besar. Dengan satu kejadian dia bisa menyebabkan adanya gosong pasir itu,” jelasnya.

Dia mengatakan gosong pasir tersebut juga ditemukan di sebelah barat Sumatera dan di utara Jawa. Dia mengatakan gosong pasir pun bisa saja hilang dan berpindah ke tempat lain karena faktor arus laut.

Danny, yang juga pakar gempa, mengatakan gosong pasir berbeda dengan proses kemunculan pulau akibat tektonik. Apakah pulau baru tersebut sama dengan pulau-pulau di NTT yang awalnya merupakan dasar lautan?

“Kalau pulau-pulau di NTT bukan sedimentasi, tapi hubungannya sama tektonik. Tapi itu prosesnya puluhan juta tahun lalu. Dulu Sulawesi juga tidak ada. Dulu timur dari Sulawesi itu asalnya dari Papua juga, terbawa sama jalur gempa jadi begitu. Dulunya Pulau NTT itu nggak ada, dulunya laut,” urai Danny.

Sebelumnya diberitakan, pulau kecil muncul di perairan Kabupaten Rote Ndao, NTT. Diduga pulau kecil tersebut muncul setelah terjadi badai dampak kelahiran siklon tropis Seroja.

Camat Loahulu, NTT, Jemmy Adu mengatakan pulau kecil tersebut berada di antara Desa Holulai dan Desa Tasilo. Pulau kecil tersebut berbentuk memanjang sehingga terlihat seperti tanggul pemecah ombak.

“Itu muncul sejak Minggu, tanggal 4 April. Warga nelayan yang awal pertama menemukan,” kata Jemmy saat dihubungi, Selasa (13/4).

Dia mengatakan sebelumnya tak pernah terlihat gundukan tanah di perairan tersebut. Pulau tersebut terdiri dari gundukan pasir dan terumbu karang yang berwarna putih kekuningan.

“Sementara kita masih sibuk penanganan korban, diperkirakan panjangnya 50 meter dan lebarnya sekitar belasan meter. Tingginya mencapai 3 meter kalau air surut. Kalau pasang masih terlihat,” ujar Jemmy.

Warga mengusulkan pulau itu dinamai ‘Pulau Paskah‘. Namun pemerintah daerah belum membahas peresmian nama pulau itu karena masih berfokus pada penanganan korban bencana di NTT.

“Belum dikasih nama, tapi warga mau ngasih nama itu ‘Paskah’, karena bersamaan dengan Hari Paskah. Tapi belum resmi, masyarakat mengusulkan itu,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah NTT Marius Ardu Jelamu saat dihubungi, Rabu (14/4).

Simak juga ‘Update Korban Bencana di NTT : 178 Orang Tewas, 47 Hilang’:

[Gambas:Video 20detik]

(jbr/idh)

Sumber Berita