DUDUKLAH di atas dermaga Pelabuhan Tenau. Kalau bergerak ke arah barat, di atas dermaga Pelabuhan Feri Bolok, yang menerima pasokan kapal-kapal yang dioperasikan Dinas Perhubungan Nusa Tenggara Timur, pandanglah sejenak. Di atas ubun-ubun Semau, pulau mungil di bibir pantai Pulau Timor, manjakan mata Anda pada pesona Semau. Sejenak sudah lebih dari cukup. Sambil menunggu kerabat yang tengah gundah di dalam perut kapal akibat terjangan ombak laut rute Pelabuhan Seba, Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) menggapai dermaga Tenau, Kupang Barat, saya tergoda pesona langit mentari di ubun-ubun Pulau Semau.

Geliat warga yang pulang-pergi Kupang-Semau tak kuat menahan naluri jurnalistik. Batere selular yang masih tersimpat stok minim, cepat-cepat saya abadikan momen berharga itu. “Adi (adik) tunggu di sini sa (saja). Ada kopi atau teh. Pisang goreng juga ada. Neu (nah), tinggal be putar kopi buat adi,” kata Ama Ke, pedagang kecil asal Semau, yang mangkal di sisi bibir dermaga Semau. Dermaga Tenau atau Bolok bukan tempat baru bagi saya. Perjalanan tiga hari tiga malam Larantuka, ujung timur Pulau Flores menuju Tenau pernah saya alami awal tahun 1990. Begitu juga Bolok. Sebagai pendatang baru tahun itu, karung-karung beras, jagung titi dalam klombu, ubi kayu atau keladi pernah menyentuh bibir dermaga. Lalu sejenak di atas pundak untuk mutasi ke atap bemo (sebutan angkutan kota) menuju Terminal Kupang.

“Kita sementara nginap di kos-kosan kaka guru di Labat. Nanti sambil cari kampus lalu bergeser dari Labat,” kata Joakim Duan, kerabat dan adik kaka guru Frans. Guru Frans dimaksud adalah Fransiskus Kia Duan, dosen FKIP Undana kala itu. Guru Frans kos di Labat, tak jauh dari Bakunase, agar kalau ke kampus bisa melewati kali Labat lalu tembus di Terminal Oepura dan jalan kaki ke kampus FKIP Undana di depan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Belakangan (kalau tak salah) semua fakultas pindah ke Penfui, tak jauh dari Bandara Internasional El Tari.

Niat Laiskodat

Malam ini, saya membaca postingan Pius Rengka, seorang wartawan senior asal Manggarai, Flores Barat. Nama kraeng Pius sudah akrab di telinga sejak Pos Kupang berdiri tahun 1992. Jauh sebelumnya, nama Pius juga selalu menghiasi Surat Kabar Mingguan DIAN, media milik Provinsial SVD Ende yang terbit di Ende, kota tempat Proklamator RI Bung Karno ditawan dan menghabiskan waktunya di sana. Saya tergoda dengan judul berita yang dishare kraeng Pius: “Pembangunan Infrastruktur di Pulau Semau Luput dari Perhatian Pemerintah” (lihat detakpasifik.com, 14 Maret 2021).

Selama ini infrastruktur Semau luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Kupang, Pemerintah Kota Kupang, Pemerintah Provinsi NTT atau Pemerintah Indonesia? Pertanyaan itu tiba-tiba berkelebat dalam kepala saya. “Bos tiba-tiba batal hadir bersama tim pemenangan di SwissBell Hotel Kristal Kupang. Barusan beliau ke Semau. Ada urusan lebih urgen di sana. Selama ini ibunda beliau memilih tinggal di Semau,” kata Reny Rumlaklak, rekan sesama staf Viktor Laiskodat di DPR RI, saat kami hadir dalam pertemuan tim pemenangan Viktor Laiskodat-Josef A Nae Soi di SwissBell Hotel, kawasan Pasir Panjang Kupang.

Semau? Ya, Semau, pulau di ujung barat Timor. Sejak masuk Kupang, mendengar nama Semau terasa menakutkan bagi saya sebagai warga pendatang muka baru. Semau identik dengan kisah mistik. Semau semacam pulau yang dihuni makluk halus, suanggi. Nyaris bersua dengan orang-orang dari Semau awal-awal 1990 seolah kecemasan mendera batin saya. Padahal, di selatan Lembata, tepatnya di depan Mingar, Desa Pasir Putih, ada Pulau Suanggi. Ada suanggi? Tidaklah. Gubernur Viktor Laiskodat pun malah aman-aman saja sepulang dari kunjungan ke Mingar dan membantu membangun jalan rute Mingar menuju Tadalakar, sebelum Desa Penikenek di Nagawutun dengan APBD NTT Tahun Anggaran 2020.

“Bapa dan mama dulu betah tinggal di Tubululin. Tapi pas kami sekolah, bapa pindah sementara di Oenesu. Ade Veki (Viktor Laiskodat) juga harus sekolah di Kupang. Nanti SMA baru tinggal dengan kami di Oepura. Tapi, setiap kali liburan sekolah, betong semua ke kampung di Semau,” ujar Penina Laiskodat, saat ngobrol di rumahnya di Oepura.

Apakah Semau terus menggeliat seiring usia Republik Indonesia? Menjawab pertanyaan ini tentu tak sulit. Semau sudah mulai agak maju. Perlahan mulai didandan namun belum signifikan. Kata Laiskodat dalam berita postingan Pius Rengka, pemerataan pembangunan nampaknya belum dirasakan oleh masyarakat Semau. Dua wilayah kecamatan di Pulau Semau: Semau Selatan dan Semau Utara masih terpenjara dalam banyak aspek. Akses jalan memadai masih menjadi kerinduan warga Semau, pulau seluas 246.66 kilometer persegi. “Masyarakat di pulau ini masih harus bertarung dengan kondisi jalan yang serba sulit untuk beraktivitas sehari-hari,” kata Juan Pesau, jurnalis detakpasifik.com dalam laporannya.

Gebrakan Laiskodat

Jauh-jauh hari, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat nampaknya care dengan pulau tempat tinggal ayah-ibu dan orang-orang terkasih. menyinggung kondisi infrastruktur di pulau ini beberapa waktu lalu. Viktor menyadari, kondisi infrastruktur Semau masih parah. Minim perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kupang untuk memperbaikinya demi pelayanan masyarakat. Bahkan dalam sebuah audiensi dengan Wakil Bupati Jery Manafe, Viktor Laiskodat menegaskan, Semau seakan tidak masuk dalam desain program pemerintah Kabupaten Kupang.

Karena itu, Viktor, mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini bertekad membangun infrastruktur di dua wilayah kecamatan di Semau. Tekad ini lahir karena ia melihat Pemerintah Kabupen Kupang tidak tertarik mengembangkan pulau mungil itu yang kini dihuni warga dari berbagai daerah baik dari Pulau Semau, Timor, Sabu, Raijua, Rote, Ndao, Sumba, Flores, Alor, dan lain-lain. “Jalan di sana saya bangun! Kita lupakan Kabupaten Kupang karena mereka tidak tertarik pulau itu,” kata Viktor Laiskodat mengutip media di atas.

Apa daya tarik, potensi, dan pesona Semau sehingga Gubernur Laiskodat, putera asli dari Tubululin, Semau terpanggil membenahi tanah leluhurnya itu? Sejenak kita menelusuri jejak sejarahnya. Semau memiliki nama asli Nusa Bungtilu. Artinya, bunga tri warna: hitam, putih, dan merah dari kapas, modal perempuan di hampir semua wilayah menghasilkan tenunan aneka motif khas daerah. Tenunan khas asli dari berbagai daerah ini yang sudah lama membuat Julie Sutrisno Laiskodat, pengusaha dan isteri Gubernur Laiskodat, menaruh perhatian serius hingga membawa produk-produk khas itu memenuhi ajang pameran bergengsi tak hanya di tingkat nasional namun juga merambah hingga benua Amerika dan Eropa. “Saya sudah bertekad membantu para pengrajin tenun ikat kita. Sekaligus mengangkat, memuliakan produk-produk khas asli NTT warisan leluhur kita. Ini tugas berat kita semua,” kata Ibu Julie Sutrisno, anggota DPR RI kepada saya usai kampanye Viktor Laiskodat-Jos Nae Soi yang disiarkan langsung dari kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.

Semau juga punya potensi lainnya. Pertanian, peternakan dan kelautan juga dimiliki pulau mungil ini. Buah semangka, bawang merah, bawang putih, tomat dan sayur-sayuran bakal memenuhi perut sampan warga menuju Tenau atau Bolok sebelum bergeser ke Pasar Oeba atau Paris (Pasar Inpres) Naikoken di Kota Kupang. Kangkung Semau, misalnya, memiliki cita rasa dan gizi tinggi serupa kangkung dari Tarus, Labat, dan sayur mayur lainnya dari kebun petani di daerah pinggiran kota Kupang. Begitu pula ternak sapi, kambing, babi dan ayam kampung dengan mudah dibawa warga Semau untuk memenuhi permintaan pedagang di Oeba atau Paris.

Mau cumi, ikan, teripang dan rumput laut, Semau juga punya. Tak sulit menemukan potensi itu. Cuma masih lemah di urusan komitmen pemerintah di tingkat lokal. Termasuk komitmen menjadikan pesona Pantai Liman di Semau Barat Daya sebagai salah satu destinasi unggulan daerah. Nah, kalau saat ini Gubernur Laiskodat menjadikan nusa Bungtilu obyek bidikan mengubah pulau itu sedikit maju, paling kurang itu adalah legasi bagi seorang pemimpin yang lahir dari kampung di tanah Flobamora. Paling kurang pesona Semau dari bibir Tenau dan Bolok lebih menukik lebih dalam. Tak hanya dalam mata, tapi juga hati seorang Laiskodat di nusa Bungtilu, tanah leluhurnya.

 

Jakarta, 14 Maret 2021
Oleh: Ansel Deri



Sumber Berita