•  Sebuah pulau baru muncul di Dusun Sai, Desa Tolama, Kecamatan Loaholu, Kabupaten Rote Ndao, NTT usai badai siklon tropis Seroja melanda wilayah NTT. Pulau tersebut diperkirakan muncul pada Minggu (5/4/2021) yang berupa gundukan pasir dan tanah.
  • Dua buah danau muncul di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa dan di wilayah RT 017 RW 007 dan RT 020 RW 008 Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang dimana di wilayah tersebut pun terdapat mata air yang terus mengeluarkan air dari dalam tanah
  • Ahli karst menjelaskan danau yang terbentuk berada di daerah doline atau cekungan di kawasan karst pada saat badai material lumpur terendapkan dan menutupi lubang pori batu gamping. Rekahan-rekahan batuan yang sebelumnya tersumbat kemudian terbuka dan mengalirkan mata air
  • Fenomena danau ini menunjukkan perlindungan terhadap kawasan karst di Pulau Timor secara keseluruhan menjadi penting untuk mengontrol fungsi ekosistem, hidrologi dan penyerapan karbon pada proses karstifikasinya. Karena jika fungsi itu hilang,maka ancaman kekeringan dan banjir di musim kemarau akan jauh lebih besar

 

Dampak Badai Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) membawa fenomena baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Selain terbentuknya sebuah pulau berbatu,terdapat dua buah danau baru yang terbentuk.

Sebuah pulau baru muncul di Dusun Sai, Desa Tolama, Kecamatan Loaholu, Kabupaten Rote Ndao. Pulau tersebut diperkirakan muncul pada Minggu (5/4/2021) yang berupa gundukan pasir dan tanah.

Camat Loaholu, Jemi Oktovianus Adu seperti dikutip dari Kompas.com menyebutkan, kemunculan pulau baru ini akibat dari Badai Seroja yang melanda Kabupaten Rote Ndao tanggal 4 sampai 6 April 2021 lalu.

Jemi menyebutkan pulau tersebut panjangnya 150 langkah berdasarkan hasil pengukuran oleh warga.

baca : Pasca Banjir Bandang di NTT, Saatnya Menanam Pohon

 

Penampakan pulau baru yang muncul di Kabupaten Rote Ndao,NTT pasca badai siklon tropis Seroja. Foto : Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani

 

Juru Bicara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Wahyu Muryadi  kepada Kompas.com mengaku pihaknya akan melakukan pengecekan lebih lanjut soal kemunculan pulau ini.

Wahyu menuturkan, sebuah wilayah disebut pulau harus sesuai dengan ketentuan hukum internasional UNCLOS 82. Dikatakannya, definisi pulau menurut UNCLOS adalah daratan yang terbentuk secara alami yang pada saat terjadi air pasang, daratan tersebut tidak tenggelam.

Syarat sebuah wilayah dinyatakan sebagai pulau antara lain, terbentuk secara alami dan bukan buatan manusia. Selain itu, pada saat air laut surut masih dikelilingi oleh air dan pada saat pasang masih muncul di permukaan air.

Hasil pemantauan Tim BKKPN Kupang menggunakan drone, terlihat 6 gundukan, dimana 5 gundukan tidak menonjol alias cenderung rata dengan rataan terumbu.

Tim BKKPN Kupang pun mengecek langsung di lokasi dan hasil pengukuran, terdapat gundukan tanah yang paling tinggi dengan ketinggian 2,5 meter pada koordinat S 10.75154 dan E 122.88319 dengan posisinya melandai ke arah laut.

baca juga : Waspada, Siklon Tropis Masih Mengancam Wilayah-wilayah di Indonesia

 

 

Munculnya Danau Baru

Selain munculnya gundukan tanah di laut, di daratan Kota Kupang pun warga dikejutkan dengan kemunculan dua danau baru di pemukiman warga.

Sebuah danau muncul di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa dan satu lainnya terdapat di wilayah RT 017 RW 007 dan RT 020 RW 008 Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Lurah Batuplat Jerimid A Oktavianus seperti dikutip dari Kompas.com menjelaskan, usai hujan deras dan Badai Seroja yang melanda Kota Kupang dan wilayah lainnya di NTT, 5 mata air pecah sehingga membentuk danau.

Jerimid menyebutkan danau tersebut memiliki luas sekitar 2 hektare dengan kedalaman sekitar 2 meter. Danau tersebut berada di lahan milik warga yang dahulunya merupakan arena balap motor.

Warga Kelurahan Sikumana, Mikhael Lakapu menyebutkan, kemunculan danau di wilayah RT 014, Kelurahan Sikumana usai warga merasakan getaran seperti gempa. Selang beberapa lama, air pun meluap dan menggenangi wilayah kebun sayur milik warga.

“Wilayah ini dahulunya merupakan kebun sayur namun setelah hujan dan badai Seroja muncul danau. Panjang danau ini sekitar 200 meter,” ungkapnya.

Yeri warga lainnya mengaku sudah mengecek dan ditemukan ada 9 mata air di areal danau yang baru muncul tersebut termasuk sebuah mata air yang dulunya berada di tengah danau.

Kemunculan danau ini pun mengakibatkan 5 sumur milik warga tenggelam. Air yang terus meninggi pun membuat kandang terak milik warga ikut tenggelam sehingga warga kuatir sebab air mulai mendekati pemukiman warga.

perlu dibaca : BMKG: Perubahan Iklim Picu Cuaca Ekstrem

 

Warga Kota Kupang sedang menyaksikan danau baru yang terbentuk pasca siklon tropis Seroja di pemukiman warga di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT. Foto : Willy Makani/penatimor.com

  

Tetap Dipertahankan

Koordinator Bidang Konservasi, Advokasi dan Kampanye Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI) Petrasa Wacana kepada Mongabay Indonesia, Jumat (23/4/2021) mengatakan secara mendasar wilayah kupang secara geologi adalah wilayah batu gamping sebagai penciri karst.

Petrasa menjelaskan danau yang terbentuk berada di daerah doline atau cekungan di kawasan karst pada saat badai material lumpur terendapkan dan nmenutupi lubang pori batu gamping.

Disisi lain, katanya, rekahan-rekahan batuan yang sebelumnya tersumbat kemudian terbuka dan mengalirkan mata air. Ia sebutkan, memang pada dasarnya di wilayah karst banyak berkembang mata air dan sungai bawah tanah.

“Curah hujan yang mencapai 200 milimeter per jam juga mempengaruhi meningkatnya jumlah air yang ada di NTT sehingga jumlah air melebihi daya tampung penyimpannya,” ungkapnya.

Petrasa menyebutkan selama lapisan lempung yang ada dibawahnya menutupi dasar cekungan, maka air itu akan bertahan lama. Tapi jika rekahan-rekahannya terbuka kembali, maka kemungkinan air akan kembali masuk ke sistem sungai bawah tanah di bawahnya.

Dirinya menyarankan untuk mengetahui apakah mata air ini akan bersifat parenial atau mengalir sepanjang tahun atau musiman, harus dilihat perbandingannya antara di musim hujan dan kemarau.

Ahli karst ini menambahkan, jika permukiman disekitar danau tidak terdampak langsung, mestinya tidak perlu dipindahkan. Petrasa sarankan, mungkin yang perlu dikelola adalah manajemen airnya.

“Wilayah NTT adalah kawasan kering saat musim kemarau, tapi di satu sisi potensi air yang tersimpan di kawasan karst di bawahnya cukup besar. Ini terjadi karena sifat dasar kawasan karst dalam proses karstifikasi dikontrol oleh air dan sistem hidrologinya,” terangnya.

baca juga : Opini : Karst, Habitat Biota Dengan Fungsi Ekologis Penting Yang Harus Dilindungi

 

Warga Kota Kupang sedang menyaksikan danau baru yang terbentuk pasca siklon tropis Seroja di pemukiman warga di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT. Foto : Willy Makani/penatimor.com

 

Petrasa menyarankan fenomena ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara sumber air baru yang muncul dengan sistem sungai bawah tanah di kawasan karstnya.

Selain itu tambahnya, penelitian dilakukan guna melihat perbandingan antara musim kemarau dan musim hujan.

Untuk kemunculan danau baru, jika cekungan doline memiliki potensi untuk menampung air maka akan dapat menjadi penampung alam yang harus tetap dijaga sebagai cadangan air di kala musim kemarau.

Ia juga meminta agar perlu tetap mempertahankan kondisi dolinanya sebagai telaga karst dan dijaga lapisan penahan airnya.

“Fenomena ini menunjukkan perlindungan terhadap kawasan kawasan karst di Pulau Timor secara keseluruhan menjadi penting untuk mengontrol fungsi ekosistem, hiidrologi dan penyerapan karbon pada proses karstifikasinya. Karena jika fungsi itu hilang, maka ancaman kekeringan dan banjir di musim kemarau akan jauh lebih besar,” ungkapnya.

 

Siklon Tropis Terkuat

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Timur, Margiono kepada Kompas.com mengatakan terbentuknya danau di dua wilayah Kota Kupang akibat dari cuaca ekstrem yang melanda wilayah NTT, Minggu (4/4/2021).

Margiono mengakui, kondisi cuacanya sangat ekstrem sehingga mengakibatkan munculnya sumber-sumber mata air dari batu-batuan pada punggung bukit di daerah tersebut.

Ia mengatakan banyaknya air yang berada di dalam tanah dan sudah jenuh maka akan berusaha mencari jalan keluar dengan cara masuk ke celah-celah batu agar bisa keluar.

“Hujan masih berpotensi terjadi di Kota Kupang meski hujannya tidak selebat awal April. Saat ini NTT sudah memasuki musim pancaroba, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau,” terangnya.

Margiono menambahkan meski demikian potensi turunnya hujan masih terjadi tapi dalam skala lokal dan tidak secara sporadis di seluruh wilayah Kota Kupang, NTT.

 

Warga Kota Kupang berpose di danau baru yang terbentuk pasca siklon tropis Seroja di pemukiman warga di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT. Foto : Willy Makani/penatimor.com

 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam siaran langsung di kanal Youtube Sekretariat Presiden Selasa (6/4/2021) menyebutkan Siklon Tropis Seroja yang memicu bencana alam banjir dan longsor di NTT merupakan yang terkuat dibandingkan siklon-siklon sebelumnya di Indonesia.

Dwikorita menjelaskan,terdapat sejumlah faktor penyebab kuatnya Siklon Tropis Seroja. Ia katakan, naiknya suhu muka air laut di wilayah perairan tersebut menjadi salah satu penyebabnya.

“Salah satu sebabnya yakni naiknya suhu muka air laut di wilayah perairan tersebut yang tercatat sudah mencapai 30 derajat Celsius. Mestinya rata-rata sekitar 26 derajat Celsius,” ungkapnya.

Dwikorita tegaskan kondisi Siklon Tropis Seroja saat ini sangat dahsyat dan tidak lazim karena masuk sampai ke daratan. Dia pun berharap agar hal ini seharusnya bisa diantisipasi sehingga tidak menjadi rutinitas tahunan.

 

 



Sumber Berita