POS-KUPANG.COM – SEBANYAK 16 kabupaten/kota di Provinsi NTT mendapat perlakukan khusus kredit atau pembiayaan bank karena terdampak bencana alam akibat badai Siklon Tropis Seroja awal April 2021 lalu.

Daerah-daerah dimaksud, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Malaka, Manggarai, Ngada dan Ende. Berikutnya, Flores Timur, Lembata, Alor, Sumba Barat Daya, Sumba Timur, Sabu Raijua dan Rote Ndao.

Demikian keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 7/KDK.01/2021 tanggal 11 Mei 2021 tentang Penetapan Beberapa Daerah di Provinsi NTT sebagai Daerah yang Memerlukan Perlakuan Khusus Terhadap Kredit atau Pembiayaan Bank.

Berdasarkan data OJK Provinsi NTT, ada 7.397 debitur yang merupakan nasabah 12 bank umum dan enam Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terdampak badai Seroja, dengan total baki debet sebesar Rp 1,2 triliun.

Baca juga: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur Selasa 25 Mei 2021, Quaker Oats Rp 44.000, Beli 2 Pop Mie Rp 10.000

Baca juga: Terbaru Kode Redeem FF Selasa 25 Mei 2021, Segera Klaim Kode Redeem Free Fire Terlengkap

Kepala OJK Provinsi NTT Robert HP Sianipar mengatakan, OJK merespon cepat harapan dan permintaan debitur terdampak bencana. Perlakuan khusus yang diberikan untuk penilaian kualitas kredit/pembiayaan, restrukturisasi, dan atau pemberian kredit/pembiayaan baru oleh perbankan.

Tujuannya untuk membantu pemulihan usaha debitur dan perbankan, serta kondisi perekonomian wilayah yang terkena dampak bencana alam.

Kita mengapresiasi kebijakan OJK memberi relaksasi kredit kepada debitur yang terdampak bencana. Keputusan ini adil karena bencana alam merupakan faktor force majeure, terjadi bukan karena unsur kesengajaan manusia. Kita meyakini srukturisasi kredit ini merupakan angin segar dan menjadi pelecut semangat debitur sehingga tidak terjerembab terus.

Baca juga: Promo Paket Murah Alfamart Selasa 25 Mei 2021, Kecap Bango + Forvita + Sasa Santan Kelapa Rp 25.900

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Mei 2021: Tanda Syukur

Debitur harus bangkit. Dengan begitu, bisa menyelesaikan angsuran kerditnya di bank. Dampak lanjutannya, dana bank pun bisa dikembalikan. Apabila tidak ada kepedulian lembaga keuangan, termasuk OJK, kita meyakini bahwa persoalan tidak saja dialami debitur melainkan pihak bank juga.

Momentum ini hendaknya dimanfaatkan dengan baik oleh debitur. Namun kita mengingatkan agar pihak bank tetap selektif dalam menerapkan relaksasi kredit terhadap debitur. Mengapa? Karena ada debitur di daerah bencana yang baik orang dan usahanya tidak terdampak badai Seroja. Kita mengkhawatirkan jangan sampai relaksasi kredit tidak tepat sasaran.

Debitur di daerah bencana hendaknya memperhatikan syarat pemberlakukan relaksasi kredit yang diterapkan OJK dan lembaga perbankan. Pertama, wajib mengajukan permohonan restrukturisasi melengkapi dengan data yang diminta oleh bank. Kedua, bank akan melakukan assesment antara lain apakah debitur termasuk yang terdampak langsung atau tidak langsung, historis pembayaran pokok/bunga dan pertimbangan lainnya.

Ketiga, bank memberikan restrukturisasi berdasarkan profil debitur untuk menentukan pola restrukturisasi atau perpanjangan waktu, jumlah yang dapat direstrukturisasi termasuk jika masih ada kemampuan pembayaran cicilan yang nilainya melalui penilaian dan/atau diskusi antara debitur dengan bank. Hal ini tentu memperhatikan pendapatan debitur yang terdampak.

Pada tataran ini, kita berharap relaksasi kredit dilaksanakan sebaik mungkin dan tepat sarasan. Hal itu akan berdampak pada pemulihan ekonomi daerah yang terdampak bencana. *

Kumpulan Salam Pos Kupang



Sumber Berita