• Virus Flu Babi atau African Swine Fever (ASF) mulai masuk ke NTT melalui jalan darat dari negara Timor Leste akhir tahun 2019 dan mulai menyerang ternak babi di Pulau Timor hingga menyebar ke seluruh wilayah kepulauan di NTT
  • Dari total populasi babi sebanyak sekitar 2 juta ekor di NTT, keganasan Virus ASF menyebabkan puluhan ribu ekor babi mati, bahkan menyerang ratusan ribu ekor di beberapa wilayah
  • Babi yang terserang virus ASF memiliki gejala demam yang sangat tinggi, pendarahan di kulit, hilangnya nafsu makan, kemerahan di seluruh kulit, mata merah dan berdarah, luka lebam dan beberapa gejala lainnya. Virus ini menyerang bagian limfa
  • Wahana Tani Mandiri menilai terjadi pembiaran dan pemerintah tidak melakukan upaya pencegahan yang maksimal. Pemerintah dinilai kecolongan dan tidak mampu mengamankan sumber penghidupan dan pendapatan masyarakat.

 

Virus Flu Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) kian mengancam peternak di NTT. Virus ini diketahui pertama kali memasuki wilayah NTT pada akhir tahun 2019 dari Dili, Timor Leste lewat jalur darat.

Virus ini pun menyebar dengan cepat di Pulau Timor hingga menyeberang ke Pulau Flores dan mengakibatkan ribuan ekor babi di Kabupaten Sikka mati mendadak.

Data dari Dinas Peternakan Provinsi NTT menyebutkan,sampai Juli tahun 2020 virus ASF mengakibatkan 23.568 ekor babi mengalami kematian.

Virus menyebar di Kabupaten Belu,Timor Tengah Selatan (TTS),Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Kupang, Sumba Barat Daya (SBD), Sumba Barat, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor dan Sikka.

Sempat menghilang menjelang akhir tahun 2020, virus ASF mulai menyebar kembali di Kabupaten Flores Timur dan Lembata awal tahun 2021. Dari total populasi babi di NTT sebanyak sekitar 2 juta ekor, diperkirakan ratusan ribu ekor babi mati terserang Virus ASF.

 

Timbulkan Keresahan

Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur drh. Simon Nani seperti dikutip dari Vivatimur.com menyampaikan bahwa di kabupaten Flores Timur tercatat 35 ribu ekor babi mati terserang virus ASF.

Simon menyebutkan, virus menyerang sejak Juli tahun 2020 dan menurun hingga Agustus. Virus kembali menyerang dan menyebabkan kematian babi meningkat sejak Desember 2020 hingga tahun 2021.

“Akhir bulan Desember 2020 sampai awal tahun 2021 kematian babi akibat virus ASF cukup tinggi hingga 35 sampai 40 persen jumlah populasi. Penyebarannya meluas hingga ke seluruh wilayah di Kabupaten Flores Timur,” ungkap Simon, Jumat (19/3/2021).

baca : Babi Hutan di Asia Tenggara Kini Menghadapi Wabah Demam Babi Afrika yang Mematikan

 

Seekor babi dewasa milik warga Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Elisia Digma Dari yang mati terserang Virus ASF. Foto : Elisia Digma Dari.

 

Hal serupa disampaikan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo Klementina Dawo seperti dikutip dari Kumparan.com Jumat (19/3). Menurut Klementina, sejak pertengahan Juli 2020 sampai Maret 2021, terdata sudah 6.048 babi yang mati.

Virus ASF sebutnya menyerang ternak babi di 6 kecamatan dan mengakibatkan keresahan di masyarakat atau peternak akibat kehilangan pendapatan.

Kepala Dinas Pertanian, Mauritz da Cunha saat rapat dengan DPRD Sikka, Selasa (16/3/2021) menjelaskan, virus ASF mulai merebak sejak Februari tahun 2020. Hingga akhir tahun 2020, terdata 3.159 ekor babi di Sikka mati.

Mauritz menambahkan, tahun 2021 jumlah kematian mengalami peningkatan drastis dan dari 21 kecamatan, sudah 17 kecamatan terserang. Hingga sekarang belum ditemukan obatnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Albert Moang kepada Mongabay Indonesia menjelaskan, jumlah kematian ternak babi akibat virus ASF di Kabupaten Sikka mencapai 11.919 ekor sejak Februari 2020 hingga Maret 2021.

Albert mengatakan,pihaknya telah menurunkan petugas dengan mendatangi dan mengunjungi 22.835 lokasi tempat pemeliharaan babi milik warga.

 

Gejala dan Pencegahan

Kepala Seksi Kelembagaan Veteriner Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Sikka drh. Maria Yersi Dua Bura dalam Diklat Cara Beternak Babi yang Sehat di Tengah Pandemi African Swine Fever (ASF), Jumat (12/3/2021) menjelaskan banyak hal untuk peternak babi.

Yersi sapaannya mengatakan, babi yang terserang virus ASF memiliki gejala demam yang sangat tinggi, pendarahan di kulit, hilangnya nafsu makan, kemerahan di seluruh kulit, mata merah dan berdarah, luka lebam dan beberapa gejala lainnya.

“Perlu saya jelaskan bahwa Virus ASF menyerang limfa yang nota bene merupakan benteng pertahanan babi sehingga tidak bisa tertolong. Kalau Virus Hog Cholera menyerang usus sehingga babi masih bisa diselamatkan,” ucapnya.

baca juga : Catatan Akhir Tahun: Corona dan Virus Berbahaya Lain yang Bersumber dari Satwa Liar [Bagian 2]

 

Babi yang terserang Virus ASF di Kecamatan Solor Barat bisa bertahan hidup dan berjalan setelah diberi minuman ramuan oleh Yamin Lewar, warga Desa Pamakayo, Solor Barat, Flores Timur, NTT. Foto : Yamin Lewar

 

Yersi menjelaskan, Virus ASF menular melalui orang yang kontak langsung dengan babi yang terkena ASF, perkawinan dengan pejantan yang didatangkan dari luar.

Selain itu melalui lalat, tikus atau ayam yang mencicipi limbahan babi yang terkontaminasi ASF lalu kontak langsung dengan babi yang masih sehat serta limbah cuciaan daging babi.

“Bisa juga menular melalui orang yang menonton penguburan babi yang mati terserang virus ASF terus dirinya memberi makan  babi yang masih sehat. Perlu ada orang khusus untuk mengurus babi  dalam keadaan bersih dan bebas dari virus ASF,” ujarnya.

Agar babi aman dari virus dan penyakit, Yersi berpesan melakukan 5 langkah. Pertama saran dia, pilihkah bibit babi yang berkualitas. Kedua,pilih pakan yang bagus yang terdapat kandungan gizi dan nutrisi.

Langkah ketiga,ucapnya, kandang harus baik dan letaknya jauh dari pemukiman warga.Kandang harus selalu dibersihkan dengan detergen, disemprot disinfektan serta satu kandang hanya ditempati satu ekor babi.

Keempat, harus miliki manajemen pemeliharaan yang baik. Waktu makan teratur, porsi makan sesuai umur, rutin memberikan obat cacing setiap 3 bulan serta mendapatkan vaksin.

Langkah kelima sebut Yersi menerapkan Bio-Sekuriti. Limbah cucian kandang dan babi dibuang ke tempat pembuangan khusus. Limbah cucian daging babi sakit jangan diberikan kepada babi yang sehat.

“Orang yang mengurus ternak babi juga harus dipastikan kebersihannya dan tidak terkontaminasi dengan babi yang sakit. Bila ada babi yang sakit, segera pisahkan dari babi yang sehat,” pesannya.

baca juga : Jane Goodall: COVID-19 adalah Produk Hubungan Tidak Selaras Manusia dengan Satwa dan Lingkungan

 

Seorang peternak babi warga Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Atong Gomez sedang membersihkan kandang babinya dengan menyemprot disinfektan. Foto : Atong Gomez

 

Yersi menegaskan,mengingat Virus ASF belum ada obatnya. Dia sarankan, selama 6 bulan, jangan mengisi kandang bekas babi mati terlebih dahulu sebelum dibersihkan dan bebas virus.

Disebutkannya, kematian babi akibat serangan Virus ASF bisa mencapai 100 persen dan virusnya bertahan lama. Virus bisa bertahan dalam daging yang disimpan di lemari pendingin selama seribu hari pada suhu 70 derajat Celsius.

“Daging babi yang diduga terserang virus ASF bisa dimakan sebelum babi tersebut mati asal dimasak dengan suhu di atas 100 derajat Celsius. Kubur babi yang mati dengan kedalaman lebih dari semeter dan dagingnya jangan dikonsumsi,” tegasnya.

 

Tidak Serius Menangani

Seorang peternak babi di Kabupaten Sikka, Atong Gomez saat ditanyai Mongabay Indonesia, Jumat (19/3/2021) mengakui ada 25 ekor dan sudah jual tersisa 16 ekor.

Saat virus mulai menyerang, dirinya langsung menjual babinya dengan harga murah. Dirinya yakin sisa ternak babinya aman dari virus akibat penerapan ketat bio-sekuriti.

“Akibat panik dan cemas saya menjual babi dengan harga lebih murah. Saya membersihkan kandang sehari 2 kali, penyemprotan disinfektan serta pengasapan kandang agar lalat tidak datang,” ucapnya.

Atong sebutkan, ada warga yang mau beli babinya tapi dia sarankan agar jangan dahulu karena kandang mereka harus disterilkan dahulu.

Mantan perawat di Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur,Yamin Lewar tergerak menemukan obatnya saat melihat warga di wilayahnya sedih akibat kematian ternak babi.

Berbekal pengalaman menangani sebagai perawat, dirinya pun mencari zat apa yang bisa melemahkan virusnya. Dia pun gunakan Glutamat yang mengandung Asam Menino dan dicampur di dalam air mineral.

“Rata-rata babi yang saya bantu di Solor bisa hidup, sementara  yang tidak dikasih ramuan minum besoknya langsung mati. Kalau baru terkena bila diberi ramuan angsung sehat tapi kalau sudah parah bisa hidup namun  perlu ada suntikan suplemen untuk meningkatkan nafsu makannya,” sebutnya.

 

Seorang peternak babi warga Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Elisia Digma Dari sedang menguburkan babinya yang mati terserang Virus ASF. Foto : Elisia Digma Dari.

 

Yamin sebutkan,kalau pada manusia dosis obat diberikan sesuai umur dan berat tapi untuk ternak babi sulit.Dia katakan,peternak kalau ditanya umur dan berat badan babi tidak ada yang tahu sehingga dia gunakan dosis rumah tangga dan obatnya dicampur dengan air mineral.

“Saya mengirimkannya secara gratis ke berbagai peternak di wilayah kabupaten di Pulau Flores dan Lembata dan diberikan secara gratis.Ini sekedar membantu masyarakat yang kesulitan di masa pandemi Corona,” ucapnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung mengatakan, pemerintah NTT terkesan melupakan Virus Babi yang menyerang dan euforia dengan Food Estate dan bendungan.

Win sapaannya mengatakan berapa kerugian masyarakat akibat pembiaran ini dan tidak melakukan upaya pencegahan yang maksimal. Menurutnya, pemerintah kecolongan besar dan tidak mampu mengamankan sumber penghidupan dan pendapatan masyarakat.

“Virus ini seakan dibiarkan saja dan sekedar cukup himbauan saja. Harusnya ada tindakan nyata membatasi perdagangan dan lainnya. Babi mati dimana-mana dan masyarakat mengalami kerugian besar,” tuturnya.

Win menyebutkan, data pasti kematian ternak babi yang dihimpun di dinas tidak valid. Menurutnya, tidak semua warga melapor babinya terserang Virus ASF bahkan membunuhnya dan dikonsumsi sebelum mati.

“Kalau seekor babi harganya Rp3 juta saja puluhan miliar rupiah pendapatan hilang. Kita bicara Food Estate tetapi ketahanan pangan masyarakat sudah hancur,” sesalnya.

 

, , , , , , , , , , ,



Sumber Berita