Merdeka.com – Banjir bandang dan tanah longsor menerjang Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi mengatakan bencana di NTT terjadi karena sejumlah faktor.

Pertama, akibat siklon tropis yang teridentifikasi pada Sabtu (3/4). Kedua, faktor perubahan landscape. “Selain siklon tropis, bencana ekologis ini dipengaruhi oleh perubahan landscape dan infrastruktur, termasuk jebolnya bendungan,” katanya kepada merdeka.com, Selasa (6/4).

Zenzi menyebut tutupan hutan yang tersisa di NTT juga tidak mampu menampung hujan. Sementara curah hujan yang terjadi beberapa hari terakhir sangat tinggi dampak bibit siklon tropis.

“Hujan tidak akan menyesuaikan curahnya dengan tutupan hutan yang tersisa,” ujarnya.

Dia menambahkan, bencana alam yang terjadi di NTT menunjukkan bahwa perubahan iklim semakin nyata. Fenonema ini mengancam pulau-pulai kecil yang ada di Indonesia.

“Bencana ekologi di NTT dan NTB ini menunjukkan bahwa perubahan iklim makin nyata dan pulau-pulau kecil makin rentan,” tandasnya.

Sebagai informasi, 128 orang meninggal dunia akibat bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di NTT dampak siklon tropis Seroja. Sementara itu, 8.424 orang akhirnya mengungsi.

Pengungsian terbesar teridentifikasi berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7.212 jiwa atau 1.803 KK. Kemudian di Lembata 958 jiwa, Rote Ndao 672 jiwa atau 153 KK, Sumba Barat 284 jiwa atau 63 KK dan Flores Timur 256 jiwa.

Selain itu, 72 orang hilang akibat bencana di NTT. Dengan rincian, 28 orang hilang di Kabupaten Alor, Flores Timur 23 dan Lembata 21.

Tak hanya korban jiwa, 1.962 rumah terdampak, 119 rumah rusak berat (RB), 118 rumah rusak sedang (RS) dan 34 rumah rusak ringan (RR) karena bencana tersebut. Tercatat ada 14 fasilitas umum (fasum) RB, 1 RR dan 84 unit lain ikut terdampak. [bal]



Sumber Berita